Menu

Mode Gelap
HMPS Ekonomi Syari’ah Adakan Entrepreneurship Workshop Semarak Bulan Bahasa, HMPS TBIN Adakan Pemilihan Duta Bahasa Indonesia IAIN Madura Gelar Pisah Sambut Kabiro AUAK IAIN Madura Tidak Masuk 3 Besar Kampus Terbaik di Madura Versi Kemendikbudristek RI Dianggap Tidak Mendidik, Konten IMTV Mendapat Kritikan

puisi · 19 Mei 2019 12:36 WIB ·

Puisi-Puisi Imro’ah Qanita; Summengha


 Puisi-Puisi Imro’ah Qanita; Summengha Perbesar

Summengha


Waktu meronta, langit menutup muka
Tentang sebuah ungkapan di ujung selasa
Ia tertawa, ia bercerita, dan  diam berlalu
Asap kopi di tangannya menjadi gigil

Tak mengerti

Siapa yang bersembunyi?
Aih, mereka kenapa?
Untuk sekedar tanya saja mulutnya terbungkam

Sedangkan hatinya liar menyapa
“Kak, aku menemukanmu. Tapi kehilangan diriku”

Lalu aku kehilangan diriku
Di luar daun kuning tak berpulang
Sedang cemara malas berguguran

“Ibe biarkan aku menyembunyikamu

Wanita di Tahun Baru

Wanita di tahun baru
Kau datang tanpa iysarat
Atau mengetuk pintu kamarku.

Tiba-tiba saja.
Kau lempar purnama di dadaku
Yang kau pahat sebagai alamat rindu
Pada sebingkai cerita tahun baru
Saat itu.

Angin pantai bernyanyi di pinggir ombak
Cemara bersiul.. Allahu
Kau datang bagai biang lala
Yang ku tangkap dalam potret kameraku
Menikmati sudut paling rahasia
Serahasia kata dalam ingatan.


Aku Tak Boleh Merendahkan Diri

Terkadang jika semua sudah menyesakkan dada

Semua jadi serba salah
Terkadang ketika kita terhimpit
Semua waktu seakan berhenti menjadi sebuah keputusasaan

Dan seakan hari esok telah di tutup Tuhan.
Sudahlah teman.

Anggap saja seperti seharusnya
Semua akan baik-baik saja
Semua akan baik-baik saja
Jika sakit itu kian terasa
Jadilah orang kreatif
Mengolah rasa sakit itu
Hingga menjadi suri
Yang tidak tahan
Kepada ketidakjelasan
Yang sangat jelas bagi mereka
Seberapapun kau bicara pada Tuhan
Terkadang dia tutup telinga
Buat apa bicara
Biar Dia yang berbicara
Lewat sakit kita.

Tuhan….

Dengarkan aku sedikit saja
Untuk kau tuang cita sahaja
Sedikit saja untuk detik ini


Kubiarkan Kau Pergi

Sejak cintaku tak lagi mampu menahan lajumu

yang berlalu menyapu bersama angin
seperti biasa aku lelah dan bersujud pasrah
sebab tanah terlalu basah untuk kutumpu pijak

dan dirimu seolah temali liar yang menarikku ke segala arah.

Kasih, maka kubiarkan kau pergi ke dunia lepas

bersama ego yang selama ini kau hunjuk-hunjuk di depan mataku

aku sayu

aku layu
dan padam bersama amarah yang basah
serupa api tercebur lindap
bagaikan tangis tertahan megap
dan aku gagap

Penjara

Penjara telah Pergi
Meninggalkan Keadilan yang hanya tinggalkan teriakan

Pahlawan sungguh lelah
Setelah kita gagal membenah diri
Pohon-pohon yang di gunduli
Pasrah menjadi saksi

Betapa perihnya negri ini bukan drama tetapi luka

Sering aku bertanya

Seperti apakah penduduk negri ini
Negeri yang tak pernah ku jumpai
Seperti apa pemiliknya

Bila waktu telah menyumbat hati orang-orang di balik kursinya
Ketamakan ribut berebut tak hanya di kota-kota

Bulan telah berlari
Janji pun tak berujung kapan di tepati

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kemana Jati diri Mahasiswa

3 Juni 2023 - 12:35 WIB

SERIGALA

3 Juni 2023 - 12:26 WIB

Pemangku Jabatan

3 Juni 2023 - 12:06 WIB

Kisah Keluh Kesah Rakyat Kecil

9 Maret 2023 - 13:18 WIB

SYUKUR

27 Februari 2023 - 23:47 WIB

Manusia Tak Berdosa

22 Februari 2023 - 13:34 WIB

Trending di puisi