Menu

Mode Gelap
HMPS Ekonomi Syari’ah Adakan Entrepreneurship Workshop Semarak Bulan Bahasa, HMPS TBIN Adakan Pemilihan Duta Bahasa Indonesia IAIN Madura Gelar Pisah Sambut Kabiro AUAK IAIN Madura Tidak Masuk 3 Besar Kampus Terbaik di Madura Versi Kemendikbudristek RI Dianggap Tidak Mendidik, Konten IMTV Mendapat Kritikan

cerpen · 21 Jun 2023 03:36 WIB ·

Mawar dan Durinya


 Mawar dan Durinya Perbesar

 

Activita.co.id- Apa peranmu? Bukan tokoh utama? Maka bersiaplah untuk tersakiti dan terasingkan. Jadilah tokoh utama meski pada satu kisah wayang saja. Setidaknya kau tau apa kisah penutup dari drama kehidupanmu.

Mawar lagi-lagi menjadi buah bibir penghuni tanah itu. Padahal ia bunga mengapa suka menjadi buah. Gunjingan miring bertabur tanpa kendali layaknya serbuk pasir terbawa angin, ia sampai hinggap diujung hektar sana. Siapa yang tak kenal mawar, sosok cantik itu selalu menjadi pusat perhatian. Usai durinya yang telah meracuni salah satu hati, kini ia digunjing karena kumbang belang yang hendak hinggap padanya.

“Bukankah dia sudah ternoda?”

“Benar, lihat tanda kepemilikan yang masih melingkar di jari manisnya”

Seraya berdecit mulut itu berkata “Dasar Mawar, apakah duri membuatnya gatal”

Mereka semua berbisik tiada henti. Meski sang objek pembahasan tengah melintasi mereka, mereka tetap saja demikian. Bahkan sengaja menambah volume suara.

Mawar berlalu dengan suara-suara yang didominasi oleh namanya. Bukan karna ia tak mendengar, hanya saja ia memilih untuk pura-pura tak mendengar. Percuma mawar menangkap suara itu, yang ada ia akan tertusuk oleh pisau tajam yang menyayat tiada jemu.

“Lihatlah, kelopaknya sengaja ia ayunkan” dari sudut lain suara lain pula bertuai

“Padahal ia tak terlalu wangi, mengapa banyak kumbang yang mendekati”

“Bukankah yang tak suci selalu banyak diminati”

Tawa mereka pecah dalam bisik.

Andai persediaan dalam kulkas tidak habis, Mawar tidak akan keluar pagi ini. Ia lebih suka mengurung dirinya seperti yang sudah-sudah. Makhluk-makhluk sosial itu sepertinya tak perlu kehadiran Mawar disana. Setiap kali Mawar hilang, ia tak pernah dicari. Namun ketika Mawar muncul, lagi-lagi ia tetap menjadi bahan gunjingan. Mawar berdeham keras ketika dua orang pelayan toko sedang berbisik dengan namanya yang menjadi fokus penelitian. Ia segera membeli apa yang dibutuhkan selama sebulan kedepan. Ia tidak mau keluar hingga persediaan itu habis. Seperti yang sudah-sudah.

Tiba-tiba pintu terawang bangunan itu berdecit, seseorang mendorongnya cukup kuat. Si kumbang ternyata muncul layaknya doa, karena sering disebut. Kedua bola mata mereka bertemu cukup lama. Mawar mengadukan perasannya dalam satu tatapan sendu, sedang si Kumbang memenangkannya dengan satu tatapan teduh. Kejadian itu terekam oleh kedua kasir yang artinya dokumentasi dari acara temu semu itu akan menyeruak keseluruh penjuru.

Andai Mawar sudah tidak peduli lagi dengan dunia, ia akan berlari kedalam pelukan bahu bidang tanpa sayap itu. Namun, ia memilih untuk menunduk dan berlalu begitu saja. Langkahnya tiba-tiba berat. Ingin sekali ia kembali, gelisahnya sempat menutupi rindu yang ternyata kini menggelitik hati. Sesekali ia mengintip, dalam hati ia tak berhenti berharap bahwa si Kumbang tiba-tiba terbang menyergap. Namun harap itu pupus ketika ia melihat si Bunga yang menyusul dengan langkah lurus.

Mawar berlari dalam sunyi. Langkahnya ia sengaja bisukan agar makhluk-makhluk berkerumun itu tidak sadar bahwa bahan pembiraan mereka tengah melintas dengan tergesa. Sesampainya dalam kurungan, Mawar menatap tajam dirinya dalam cermin, ia kembali bertanya, apa guna sebuah hati jika ia dilarang mencintai? Tentang hak milik, bukankah sebelum keduanya mentandatangi buku kecil dari KUA, berarti mereka belum sah dimiliki?. Lalu tentang cinta, haruskah ia datang dengan alasan yang tepat, logis, dan realistis?. Jeritan Mawar teredam dalam getar. Ia ingin menumpahkan semua keluhnya dalam satu tetesan namun sayang malah menjadi ratusan bahkan ribuan tetes. Ia mencipatakan nada pilu untuk dirinya sendiri. Setidaknya agar ada yang menemani.

“Kau menangis Mawar?”

Tanpa Mawar jawabpun, pertanyaan itu sudah terjawab.

Ia tak mendekat hanya untuk sekedar menepuk pundak Mawar dan menenangkannya, ia hanya mematung dan menatap Mawar dari kejauhan.

“Apakah kau akan marah jika aku jujur?”

Mawar melirik sejenak. Ia menggeleng pasrah

“Kau bodoh Mawar”

Mawar tertegun. Ia menutupi dua pintu sumber linangan itu dengan kedua tangannya agar hujan reda dan tak membanjiri pipinya lagi.

“Apakah kau juga akan memberiku ceramah, teman?”

Ia mendengus pelan “Sudah berapa mulut yang berusaha menembus gendang telinga kesadaranmu?”

Mawar menggeleng “Tak terhitung”

Ia mendekat “Semoga mulutku yang terakhir dan bisa langsung menembus selaput lendir kewarasan di otakmu yang aku tidak tahu masih ada atau tidak”

Mereka saling beradu pandang.

“Kau tau?. Dari zaman manusia pertama hingga manusia di zaman ini, orang-orang hanya akan membela korban, bukan pelaku. Di mata mereka korban adalah protagonis dan pelaku adalah antagonis tanpa mereka tahu apa latar belakang dan skenario yang sebenarnya terjadi. Dan satu hal lagi Mawar, dalam semua kidung, kisah, bahkan sejarah, pemenangnya selalu si pemeran utama” seutas senyum licik menjadi penjeda petuah itu. “Kau mau dibela dan jadi pemenang?”

Mawar mengangguk mantap

“Jadilah korban dan tokoh utama. Sebusuk apapun tabiatmu, jika kau adalah korban dan seorang tokoh utama di mata penonton, maka kaulah yang akan menjadi pemenang”

“Maka mulai dari sekarang, ubahlah judul cerita ini menjadi namamu. Jadilah tokoh utamanya dan jadilah korbannya. Sihir si Bunga menjadi pemeran pendukung agar selebih apaun dia darimu, kau yang akan tetap menjadi nomor satu”

Petir di langit siang itu seakan menyambar otak kewarasan Mawar. Ia menyudahi aktifitas berdialognya bersama cermin kesayangannya di kamar. Usai mengoles bibir se merah darah pahlawan, menyanggul rambut hingga leher jenjangnya tampak mengkilau, ia mendobrak pintu rumahnya. Langkahnya anggun namun pasti, pinggulnya sengaja ia goyang. Setiap hentakan seakan memiliki peran penyerang. Ketika penonton mulai memperhatikan, ia mulai berlagak bak sang putri yang terdzolimi. Menjadi bawang putih yang menggiring bahwa si merahlah yang jahat.

Ia mengubah raut wajahnya sendu dan penuh akan pilu meski hanya semu. Bukankah begitu kisah-kasih di negeri ini, yang mengaku tersakiti adalah pemain inti, sedang yang mencoba tegas dan kuat malah dianggap yang paling jahat. Pelan namun pasti Mawar berganti peran menjadi tokoh utama. Semoga kali ini Mawar yang benar-benar menjadi pemenang.(Khairatunnisa’/Activita)

Artikel ini telah dibaca 54 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Perjalanan Cahaya

29 Mei 2023 - 13:40 WIB

Pelangi Setelah Hujan

26 Mei 2022 - 04:15 WIB

Pertama Naik Angkot Umum

24 Mei 2022 - 10:10 WIB

IKHLAS MELEPAS NAMUN MEMBEKAS

11 Maret 2022 - 00:20 WIB

Harapan Semu

6 Maret 2022 - 00:42 WIB

Rabb

26 Februari 2022 - 08:36 WIB

Trending di cerpen