Menu

Mode Gelap
HMPS Ekonomi Syari’ah Adakan Entrepreneurship Workshop Semarak Bulan Bahasa, HMPS TBIN Adakan Pemilihan Duta Bahasa Indonesia IAIN Madura Gelar Pisah Sambut Kabiro AUAK IAIN Madura Tidak Masuk 3 Besar Kampus Terbaik di Madura Versi Kemendikbudristek RI Dianggap Tidak Mendidik, Konten IMTV Mendapat Kritikan

Artikel Lawas · 25 Agu 2015 15:00 WIB ·

Kupon Kurang, Mahasiswa Mengeluh, Kajur Kecewa


 Kupon Kurang, Mahasiswa Mengeluh, Kajur Kecewa Perbesar

STAIN Pamekasan- Ketua Jurusan (Kajur) Tarbiyah mengadakan studium general di Auditorium Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan. Studium general sangatlah penting bagi mahasiswa sebelum perkuliahan aktif, dan studium general ini dilaksanakan pada selasa (25/08).

Penyelenggaraan studium general ini bertema “Membangun Budaya Akademik di Perguruan Tinggi” yang disampaikan langsung oleh Masdar Helmy.,Ph.d, yang sekarang menjadi Wakil Derektur Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sedangkan mahasiswa yang ikut studium general berjumlah seribu orang, itupun karena banyak yang tidak datang. Akan tetapi meski mahasiswa  tidak datang semua, acara tetap berjalan.

Mahasiswa yang ikut studium general ini khusus untuk Jurusan Tarbiyah semester gasal, sedangkan untuk Jurusan Syariah dilaksanakan pada sore hari pukul 13.00 WIB.

Pada waktu acara berlangsung, bangku  banyak yang kosong. Hal itu karena  mahasiswa banyak yang hanya mengambil kupon, lalu keluar dari ruangan. Padahal panitia sudah memberikan arahan, namun mahasiswa tetap tidak mendengarkan.

Kajur dan dosen Syariah menyambut dengan rasa kecewa, karena biasanya kalau acara belangsung mahasiswa itu diam  tidak bebicara sendiri. Mahasiswa banyak yang berbicara sendiri. Oleh karena itu, Kajur merasa kecewa terhadap peserta studium general.

“Mahasiswa harus bisa menyesuaikan diri dengan budaya civitas akademika STAIN Pamekasan. Karena  sistem yang berada di STAIN Pamekasan jauh beda dengan masa sekolah SMA,” ungkap Muhlis Solichin, Kajur Tarbiyah, dalam sambutanya. Pada penyampaian sambutan itu, masih ada mahasiswa yang berbicara dan tidak mendengarkan, padahal sambutan ini sangat penting dan perlu didengarkan oleh mahasiswa.

“Tema ini sangat penting, karena selama ini standar akademik yang dimiliki oleh kampus-kampus Indonesia, terutama di kalangan kampus Perguruan Tinggi Islam Negeri atau swasta sangat rendah. Kalau kita melihat misalnya peringkat antar kampus Islam atau non-Islam, sangat jauh kolektif kampus non-Islam atau kampus umum seperti UI, UNAIR. Sedangkan budaya akademiknya sudah maju,” papar Helmy kepada crew  Vita Pos.

Menurutnya, tema yang dangkat sangat relevan, karena ini adalah kebutuhan semua mahasiswa dan kebutuhan dosen,  juga sampai unsur pimpinan yang menopang terciptanya budaya akademik yang bagus.

Ia sering mengisi di Madura, salah satunya di  Al-Amin Prenduan Sumenep dan kampus yang lainnya. Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah mutu dan kualitas mahasiswa. Tidak cukup hanya dengan teori, karena untuk mengaplikasikan  di lingkungan masyarakat sangat sulit sekali.

“Senang memperluas pengatahuan  dan  banyak mahasiswa yang mengeluh karena tidak kebagian kupon. Padahal dia sudah mau masuk tapi pintunya ditutup karena kuponnya habis,” kata Ardi, mahasiswa TBI.

Rasa puas datang dari Ummi Kulsum, mahasiswa PBA. “Saya setuju dengan tema, karena kita bisa tahu seperti apa budaya-budaya akademik sebenarnya. Saya merasa puas, soalnya dari   penyampaiannya sangat bagus dan mengena terhadap budaya akademik. Dan apa yang disampaikan hari ini melalui simposium yang sangat sederhana ini, saya sungguh apresiasi sekali mengingat budaya-budaya semacam itu telah mengalami deviasi dan dekadensi yang terlalu jauh,” ujar Ummi

Menurut Ardi mahasiswa TBI, pemateri selain memberikan teori, juga sekaligus memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk membangun budaya akademik. Tidak hanya berteori, taoi juga menerangkan faktor-faktor yang kurang mendukung untuk membangun budaya akademik dan cara menerapkannya.

Tema itu memang dipilih untuk bisa menciptakan suasana akademik yang baik ketika mereka aktif kuliah. Sehingga mereka sudah mempunyai bekal mengenai apa yang menjadi kewajiban dan kegiatan mahasiswa.

“Semoga mahasiswa benar-benar  memiliki budaya akademik. Misalnya menjalankan tugas  akademik yang disiplin, tidak melakukan plagiat, mencontek dan lain sebagainya,” kata Siswanto, Sekretaris Jurusan Tarbiyah.

Helmy menyampaikan tiga harapan. Pertama, mahasiswa mampu menjalani proses akademik yang baik. Kedua, mahasiswa dapat difasilitasi  oleh pihak kampus dalam mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Ketiga, mampu memaknai setiap proses yang mereka lalui.
(Syafii)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

HMPS dan IKA EKONOMI SYARI’AH Adakan Pelantikan Bersama, Kaprodi: Mari Sama-sama Berkolaborasi

18 Juni 2024 - 05:21 WIB

Pelantikan Kolaboratif HMPS dan IKA EKONOMI SYARI'AH

Launching UKK Baru, Fakultas Syariah Tingkatkan Kemampuan Mahasiswa Lewat UKK Lawrent

17 Juni 2024 - 11:38 WIB

Fakultas Syariah Launching UKK Baru, UKK LAWRENT

Training Kepengurusan HMPS MPI, Kaprodi Ingatkan Mahasiswa untuk Lebih Disiplin

14 Juni 2024 - 03:11 WIB

Training Kepengurusan HMPS MPI IAIN Madura

Ormawa Fakultas Tarbiyah Lakukan Audensi, Pihak Dekanat Beri Tanggapan

12 Juni 2024 - 05:43 WIB

Audensi Ormawa Terhadap Dekanat Fakultas Tarbiyah

Tunjukkan Kesolidan, Ormawa Fasya Gelar Pelantikan Raya

12 Juni 2024 - 01:17 WIB

pelantikan raya fakultas syari'ah 2024

Sema, Dema, dan UKK FPM FEBI Adakan Pelantikan Kolaboratif, Ini Tanggapan Pihak Fakultas Ekonomi dan Bisnis

10 Juni 2024 - 14:15 WIB

Pelantikan Kolaboratif Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Trending di Liputan Khusus