Menu

Mode Gelap
HMPS Ekonomi Syari’ah Adakan Entrepreneurship Workshop Semarak Bulan Bahasa, HMPS TBIN Adakan Pemilihan Duta Bahasa Indonesia IAIN Madura Gelar Pisah Sambut Kabiro AUAK IAIN Madura Tidak Masuk 3 Besar Kampus Terbaik di Madura Versi Kemendikbudristek RI Dianggap Tidak Mendidik, Konten IMTV Mendapat Kritikan

puisi · 1 Jan 2020 00:10 WIB ·

Kumpus: Buku Berwajah Hujan


 Kumpus: Buku Berwajah Hujan Perbesar

Oleh: Anis Amalia*


Buku Berwajah Hujan

Aku memang gemar menyusuri lorong perpustkaaan, sendirian
Entah pagi, siang, maupun sore hari
Lorong yang kuintip tidak itu-itu saja
Aku menyisir banyak lorong
Karena bagiku, setiap lorong memiliki magnet masing-masing

Sabtu, terkadang perpustakaan akan tutup
Tapi tidak kala itu
Saat itu aku sedang ingin menyusuri lorong buku sejarah
Karena kemarin malam adikku bertanya sejarah kota tempat kami menetap
Dan aku tidak dapat menjawab pertanyaannya
Malulah aku seketika

Sunyi aku menelusuri lorong itu
Lalu mataku menarik pada satu buku bersampul masam
Ah, bukan masam
Tapi, apa, ya?
Di sampul tersebut terlihat wajah perempuan tertunduk lesu
Jadi kuibaratkan saja ‘bersampul masam’

Kuambil buku tersebut dari raknya
Kulihat-lihat daftar isi, kata pengantar, juga penulisnya
Sekilas aku tak mampu menebak isi buku ini
Seperti sampulnya. Isinya juga sepertinya ‘masam’
Atau jangan-jangan pikiranku saja yang masam?

Agak lama aku memikirkan isi tersebut
Tanpa mencoba membaca sebaris prolognya
Lalu dari luar terdengar suara gaduh

Ternyata hujan lebat datang mendadak
Saat aku masih menebak isi buku bersampul masam itu

26 agustus 2019


Dipangku Ibu

Saat ini, inginku hanya satu
Dipangku Ibu
Dibelai rambutku
Ditabahkan hatiku

Saat ini, inginku tak aneh, tak banyak
Dipangku Ibu
Saat dunia kurasa sesak, kuingin…
Dipangku Ibu

Dipangku Ibu,
Adalah dipangku ratu
Ratu dalam hidupku

Ingin kulepas semua beban ini
Ingin kutumpahkan tangis ini
Di pangkuan Ibu

Mendengar nasihat dan sarannya adalah asupan bagiku
Energi agar aku tetap bertenaga menghadapi segala
Senyum dan tangisnya bagiku sama saja
Sama-sama melumpuhkan aku

Aku ingin…
Segera…
Dipangku Ibu.

27 agustus 2019


Sekat-Sekat Tangisan

Sesakku gugup dalam tangisan
Kala mendapati penopang hidupku akan jatuh tertatih
Bak terluka lalu diiris sembilu
Aku menangis tersedu-sedu menjadi biru

Manusia memang lemah
Terlebih bila melihat poros dunianya akan berpindah

Aku tetaplah aku
Tak ubah jadi mereka ataupun kamu

Aku tetap memilih menderaskan air mata
Kala semestaku tak lagi di mata

Tangisku kuberi sekat
Agar tak terlihat
Namun gagal
Tangisku tak dapat kutanggal

29 agustus 2019

Bayang Buram

Menghitam
Bayangan akan selalu menjadi hitam
Di mana pun, kapan pun

Manusia adalah tuan bagi dirinya sendiri
Menjadi sopir ke mana pun ia hendak mengemudi
Menjadi arah ke mana pun ia akan berlabuh
Tak memandang waktu telah menjumpai subuh

Manusia tetaplah manusia
Di tengah keramaian,
Ia bisa menjadi sepi
Lalu bunuh diri

Bila telah bunuh diri,
Ia merasa hidup sangatlah sepi
Lalu ingin bangkit lagi

29 agustus 2019

*Penulis adalah mahasiswi Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) dan anggota magang UKK LPM Activita

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kepada Kekasih

31 Maret 2024 - 12:09 WIB

Kata Puisi

ROMANTIKA WERKUDARA-MAHASISWA

23 Maret 2024 - 09:32 WIB

Kata puisi

DI SEPERTIGA MALAM

22 Maret 2024 - 11:06 WIB

Kata puisi

Kemana Jati diri Mahasiswa

3 Juni 2023 - 12:35 WIB

SERIGALA

3 Juni 2023 - 12:26 WIB

Pemangku Jabatan

3 Juni 2023 - 12:06 WIB

Trending di puisi