Menu

Mode Gelap
HMPS Ekonomi Syari’ah Adakan Entrepreneurship Workshop Semarak Bulan Bahasa, HMPS TBIN Adakan Pemilihan Duta Bahasa Indonesia IAIN Madura Gelar Pisah Sambut Kabiro AUAK IAIN Madura Tidak Masuk 3 Besar Kampus Terbaik di Madura Versi Kemendikbudristek RI Dianggap Tidak Mendidik, Konten IMTV Mendapat Kritikan

puisi · 26 Okt 2019 14:59 WIB ·

Dari A Sampai Z


 Dari A Sampai Z Perbesar

Dari A sampai Z
Alphabet itu.

Berderet tanpa henti setiap hari.

Cerita tentang sang anak bumi dan isinya.

Di antara ribuan sajak yang dibuat, ada kamu sebagai alasan.

Entah, pada alasan apa sajak itu teruntukmu. Karena yang aku tahu, sajak adalah metamorfosa dari yang berlalu dan yang ditinggalkan.

Fatamorgana, aku menyebutnya. Di musim yang tak ku mengerti apa, siluet itu muncul kembali sebagai fatamorgana semu yang nyata.

Gelak tawanya terngiang kembali di telinga, seakan memutarkan kembali masa saat sang malam merangkul erat embun yang hanya menunggu waktu untuk menguap.

Hai, kamu, yang namanya tak pernah luput kurapalkan. Apa kamu masih menyimpan bagian tentang kau dan aku yang tak kau sebut kita?

Ibarat payung yang menanti hujan di musim kemarau, aku tak henti memohon pada pemilik alam agar bola matamu segera memberi jawaban.

Jika jawabannya adalah ya, sudikah kau memberi sedikit lengkungan senyummu padaku?

Kau pun tak pernah menatap mataku kala kita berbincang di bawah bintang. Yaaa meskipun aku di sini dan kau di sana, namun, bukankah kau pernah mengatakannya?

Lembayung senja itu pun menjadi awal senyumku, karena apa? Karena malam akan datang, dan itu kamu.

Malam. Ya, aku merindukanmu, malam.

Naas yang kuterima. Walau sang malam memang datang, namun dirinya tak pernah menganggapku ada.

Orang-orang di atmosfernya, pasti berakal bahwa aku sumber celaka. Padahal, maksud hatiku adalah hanya ingin membuatnya bahagia dan tertawa.

Paku dalam dadaku belum dapat kurelakan. Ia masih saja runcing menancap tepat di relung hati. Ah, sungguh menyesakkan.

Qadar alam yang kuterima, telah terbayangkan sebelumnya. Ya, aku sudah menerka akan seperti ini akhirnya. Aku bersama rinduku yang keras kepala, kau bersama rakusmu yang benar-benar gila.

Rasanya, seperti jemariku diiris sembilu lalu diantar berobat ke luar angkasa. Kubilang, mengapa tak memakai tetes embun saja? Jangan, dinginnya embun terlalu angkuh untuk lukamu, jawab satu suara.

Saat yang bersamaan, darahku mengucur terlalu deras hingga menghitam. Begitu legam. Aku bergidik melihatnya.

Tapi aku tetap bersikeras menolak. Aku tak ingin makhluk luar angkasa mengetahui bahwa bukan hanya jemariku yang teriris, namun juga hati dan segala komponennya.

Untung saja, senja segera menepi. Karena jika tidak, aku bisa malu yang entah sudah keberapa kali. Ya, aku memang selalu bercerita pada senja. Karena senja tak akan pernah menduakan atau mendukakan malam.

Venus menahan tawa menatapku yang hanya mampu berkaca-kaca. Ia berbisik, Menangislah.. Keluarkan segala kesal dan gelisah yang selama ini kau simpan diam-diam.

Waktu terus melaju tanpa menghiraukan aku dan ketidakwarasanku. Aku tak beranggapan bahwa aku telah gila, hanya saja tak lagi waras. Ya, tak lagi waras.

Xilem pada kayu nampak telah kalah telak bila dibandingkan dengan angkuh dan kasarnya perangai kita. Apa? Kita? Kurasa hanya kau. Eh tidak, kurasa hanya aku.

Yakinkan hati pada hujan yang datang saat petang hari, adalah salah satu caraku berdamai dengan egoku senidiri.

Dzat yang Maha Agung, pulangkan dan sandarkan ia pada sajadahnya.

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Januari dengan Hujan

13 Mei 2024 - 00:01 WIB

Diakses dari https://pin.it/6mBrMp1hw

Kepada Kekasih

31 Maret 2024 - 12:09 WIB

Kata Puisi

ROMANTIKA WERKUDARA-MAHASISWA

23 Maret 2024 - 09:32 WIB

Kata puisi

DI SEPERTIGA MALAM

22 Maret 2024 - 11:06 WIB

Kata puisi

Kemana Jati diri Mahasiswa

3 Juni 2023 - 12:35 WIB

SERIGALA

3 Juni 2023 - 12:26 WIB

Trending di puisi